Skip to content Skip to footer
No Image Available

MODUL KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TINGKAT SMP DAN SEDERAJAT UNTUK GURU

 Penulis: dr. Lovely Daisy, MKM; Ribka Ivana Sebayang, SKM,MKM; dr Weni Muniarti, MPH; Rr Weni Kusumaningrum, SKM,MKM; Sari Anggreani, SKM; Putu Krisna Saputra, SKM MKM; Hana Shafiyyah SKM MPH; dr Zakiah Dianah MKM; dr Farsely Mranani, MKM; dr. Amirul Khoiriyah T.  Kategori: Pengajuan ISBN  Penerbit: Kementerian Kesehatan  Halaman: 255  Negara: Indonesia  Bahasa: Indonesia  Ukuran: 25 x 16 cm  Editor: drg. Wara Pertiwi Osing, MA dan dr. Sandeep Nanwani, MMSc
 Deskripsi:

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, diamanahkan
bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi, edukasi dan konseling mengenai keseahtan
reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi telah memasukkan
kesehatan remaja sebagai salah satu jenis layanan yang merupakan suatu dan atau serangkai
kegiatan yang ditujukan kepada remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi. Sehingga
pemberian informasi, edukasi, dan konseling bagi Remaja tentang kesehatan reproduksi
merupakan salah satu layanan yang diperlukan untuk memenuhi hak mereka dan
meningkatkan pengetahuan serta keterampilan untuk menjalani hidup selanjutnya.
Menurut data nasional yang diperoleh dari studi dan survei di Indonesia, didapatkan
bahwa 8% Remaja laki-laki dan 2% remaja perempuan melaporkan telah melakukan hubungan
seksual, dengan alasan paling banyak saling mencintai, penasaran/ ingin tahu, terjadi begitu
saja, dipaksa, dan terpengaruh teman (SDKI 2017). Selain masalah di atas, informasi mengenai
pelecehan didapatkan bahwa hanya 20,38% peserta didik yang menyatakan pernah diajarkan
di kelas aapa yang harus dilakukan jika dipaksa melakukan hubungan seksual, 63,62% pernah
diajarkan menghindari pelecehan, dan 36,33% pernah diajarkan cara menolak berhubungan
seksual, sementara hanya 9,9% perempuan dan 10,6% laki-laki yang memiliki pengetahuan
komprehensif mengenai penyakit HIV/ AIDS (GSHS 2015).
Masalah pada remaja yang disebutkan di atas, merupakan beberapa yang turut
menyumbang kasus kematian Ibu, yang mana disebabkan secara langsung oleh kondisi
kesehatan ibu yang kurang baik ketika hamil seperti anemia dan gizi kurang (kondisi ini
semakin buruk ketika ibu hamil masih berusia remaja atau sekitar <20 tahun). Usia remaja
mengalami kehamilan dikarenakan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang terbatas
seperti yang disebutkan pada data sebelumnya.
Oleh karena itu, sebagai upaya peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi bagi
remaja, perlu entry point yang tepat dalam penyampaiannya, dalam hal ini sekolah. Sebanyak
80% usia sekolah dan remaja merupakan peserta didik. Sehingga, pemberian informasi,
edukasi dan konseling dapat diberikan oleh guru di sekolah sesuai jenjang pendidikan peserta
didik tersebut. Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja bagi guru SMP dan sederajat
ini mencakup 8 bagian yang terdiri dari: (1) Konsep Dasar Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Remaja, (2) Nilai, Mengenal Diri dan Hubungan dengan Orang lain, (3) Pertumbuhan dan
Perkambangan Remaja, (4) Masalah Kesehatan Reproduksi, (5) Gender dan Pencegahan
kekerasan, (6) Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan Reproduksi
Remaja, (7) Dukungan dan Layanan, (8) Penyusunan Rencana Pembelajaran dan Rencana
Pelaksanaan Layanan Pendidikan Kesehatan Reproduksi. Terdapat langkah pembelajaran dari
setiap topik dari 8 bagian di atas untuk guru dan peserta didik dan terdapat catatan penting
yang telah didesain sedemikian rupa agar mudah diterapkan oleh guru.


 Back