Skip to content Skip to footer
No Image Available

MODUL PELATIHAN UNTUK PELATIH FASILITATOR PEMICUAN 5 PILAR STBM PADA SITUASI BENCANA

 Penulis: 1. Ze Eza Yulia Pearlovie, SKM dan Ir. I Nyoman Oka, MM  Kategori: Pengajuan ISBN  Penerbit: Kementerian Kesehatan  Halaman: 379  Negara: Indonesia  Bahasa: Indonesia  Ukuran: 26 x 20 cm  Editor: Ze Eza Yulia Pearlovie, SKM dan Ir. I Nyoman Oka, MM
 Deskripsi:

Indonesia termasuk salah satu negara yang rawan bencana, baik bencana alam, non alam, dan sosial, yang dapat terjadi sewaktu-waktu, tanpa ada peringatan. Dampak yang timbul akibat dari bencana ini salah satunya adalah terhadap lingkungan. Terjadinya kerusakan lingkungan dan infrastruktur publik, yang mendukung kehidupan manusia, seperti rusaknya tempat tinggal, rusaknya layanan air minum dan sanitasi, terjadi perubahan lingkungan yang kondusif bagi vektor dan binatang pembawa bibit penyakit, seperti nyamuk, lalat dan tikus. Selain permasalahan tersebut, muncul permasalahan lain pada situasi bencana, yaitu pengolahan pangan yang kurang / tidak higienis, perilaku pengungsi yang kurang menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri, sehingga beresiko munculnya vektor penyakit dan gangguan kesehatan. Situasi paska bencana yang tidak segera diantisipasi, dapat menyebabkan kejadian bencana baru, yaitu kejadian luar biasa penyakit.

Untuk menanggulanginya, diperlukan upaya bersama, agar masyarakat pengungsi dapat segera kembali ke kehidupan normal. Salah satu upaya bidang kesehatan lingkungan yang penting dalam kondisi kedaruratan, adalah kegiatan promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat, seperti buang air besar di jamban, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, pengelolaan air minum dan pangan, pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga. Upaya perubahan perilaku tersebut dilakukan melalui pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Pada tahun 2018, telah terjadi bencana alam gempa bumi di Lombok (NTB), gempa bumi, likuifaksi dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala (Sulteng), banjir bandang di Sentani (Papua), serta bencana sosial di Wamena (Papua), yang menimbulkan pengungsi. Praktek baik implementasi dengan menggunakan pendekatan STBM pada situasi bencana ini, berhasil memberdayakan masyarakat untuk mengubah perilaku higienie dan sanitasi masyarakat, serta meningkatkan kualitas lingkungan, sehingga dapat menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan di pengungsi.

Untuk menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan di pengungsian, perlu kolaborasi dan integrasi dari berbagai pihak / lintas sektor yang ada di lokasi bencana. Kolaborasi ini memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memahami STBM dan isu sanitasi pada situasi bencana. Oleh karena itu, untuk mencetak para pelatih yang akan menghasilkan fasilitator handal di daerah, diperlukan modul Pelatihan Untuk Pelatih Fasilitator Pemicuan 5 Pilar STBM Pada Situasi Bencana sebagai acuan yang terstandar.


 Back