Skip to content Skip to footer
 Deskripsi:

Meski secara global terdapat 11% kasus TBC anak dari seluruh kasus TBC di dunia, TBC pada anak
tidak dianggap prioritas pada program TBC nasional di hampir seluruh negara. TBC anak dianggap
bukan sumber penularan utama TBC di masyarakat, padahal penanganan TBC pada anak berkontribusi
terhadap upaya penanggulangan TBC secara nasional dan penurunan jumlah kasus TBC di masa
datang. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak kedua di dunia. Pada tahun
2022 kasus TBC anak usia <15 tahun yang ternotifikasi diperkirakan sebanyak 110.881 atau sekitar
15,3% dari seluruh kasus TBC di Indonesia. Namun demikian, cakupan pengobatan TBC anak sangat
bervariasi antar provinsi dari 30,1% sampai dengan 401,5%.
Anak dan remaja merupakan populasi yang berisiko tinggi terinfeksi TBC, terutama usia bayi dan balita
yang berisiko untuk berkembang menjadi sakit TBC berat sehingga dapat menyebabkan kematian atau
disabilitas jangka panjang. Remaja (usia 10-19 tahun) dapat mengalami penyakit sakit TBC seperti yang
terjadi pada dewasa yang infeksius dan dapat menularkan pada orang sekitarnya. Pada kenyataannya
dalam praktik layanan kesehatan sehari-hari, investigasi kontak, deteksi dini, diagnosis dan terapi kasus
TBC pada anak dan remaja, masih belum menjadi prioritas di program TBC nasional.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2022 mengeluarkan panduan manajemen TBC pada
anak dan remaja, yang berisi beberapa rekomendasi baru, baik dalam skrining, diagnosis dan tata
laksana, yang implementasinya dapat disesuaikan di masing-masing negara, termasuk Indonesia.
Sehubungan dengan itu, Kementerian Kesehatan RI berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia
melakukan revisi buku petunjuk teknis manajemen dan tata laksana TBC pada anak.
Petunjuk teknis Tata Laksana Tuberkulosis Anak dan Remaja edisi 2023 ini bertujuan sebagai acuan
bagi tenaga kesehatan pada level nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan fasilitas pelayanan kesehatan
dalam melakukan manajemen dan tata laksana TBC pada anak dan remaja. Secara khusus, petunjuk
teknis ini dapat membantu tenaga kesehatan untuk meningkatkan temuan kasus TBC pada anak dan
remaja serta memberikan pengobatan yang optimal dan adekuat, meningkatkan temuan infeksi TBC
pada anak dan remaja, meningkatkan capaian pemberian TPT kepada anak dan remaja; dan
menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian anak akibat TBC pada anak dan remaja.
Petunjuk teknis disusun menurut perjalanan (pathway) seorang individu dari terpapar sampai sakit TBC
termasuk pencegahan dan pengobatannya. Selain itu, dapat menjadi acuan dalam mendorong kerja
sama antara pemangku kepentingan dalam bentuk kemitraan.
Petunjuk teknis ini akan dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan ilmiah terkini, pengalaman
praktis, serta rekomendasi nasional dan internasional. Pembaruan petunjuk teknis akan dilakukan untuk
memastikan keberlanjutan dan peningkatan program Tuberkulosis di Indonesia.

 

 


 Back